
Hello Hive friends, may God always bless us all. Greetings to all community members and stakeholders. I am delighted to be back to share this week's Wednesday Walk community post.
For this edition, I want to share moments from my journey into the Wednesday Walk community this week. I departed from Makmur Village, Celala District, Central Aceh Regency, during a journey with cool air and sunny weather.

Entering the dry season, the weather has recently become sunny, sunny, and hot since the morning. It's now rare to see rain, with occasional showers, but even then it's just a light drizzle.
With this kind of weather, I think it's very conducive to our activities from morning to evening. Despite the heat, I had to go into town to unpack the condolence sign frames my customers had ordered.

Before arriving in town, I took a moment to visit the Paya Nahu Bridge, a bridge located in Pendere Saril village, Pegasing District, Central Aceh. This bridge serves as a road connecting residential areas across the river and hills to the city.
There is a settlement near the Paya Nahu Bridge, where several houses belonging to local residents live as usual as coffee farmers. This area looks like a typical rural area with its pristine natural atmosphere, with houses built among coffee plantations and rice fields.

This residential area is not far from the main road, the Yos Sudarso-Jagong Jeget highway, but it is located across the river. Some houses are built on the hillside, while others are built near the hillside, with a backdrop of hills and coffee plantations.
The road leading to this area is paved, but some spots are damaged and full of potholes. The narrow road can only accommodate one car at a time. In addition to the coffee plantations, there are also small rice paddies near the river. They are currently planting rice. Some of the rice paddies show young rice plants with their distinctive green leaves.

Being here, I truly felt the serene and calming atmosphere of the village. There wasn't much noise, and everything felt calming. When I was near the bridge, the only sound I could hear was the rushing water of the river. The sound was soothing and provided a natural, reflective atmosphere full of meaning for meditation.
The river near the bridge originates from a lake. The water flowed swiftly over the rocks, with the sound of splashing and roaring water filled with melodies, which felt very calming to me.

This bridge, located near the river, is usually the main point for travelers attempting extreme whitewater rafting. Due to the fast-flowing current and challenging rocks, this point is often used as a launch point for rubber rafters.
The river also features several lush, shady bamboo trees. Travelers attempting extreme whitewater rafting from this point will traverse a fast-flowing river, surrounded by bamboo trees and large rocks within.







Meanwhile, at several other points further upstream, the river flow appeared very calm. In this river there are a number of residents who are fishing, because the water is calm, so they can fish in this river flow, while several ducks can also be seen swimming in the river.

Halo sahabat Hive, semoga tuhan selalu memberkati kita semuanya, salam untuk seluruh anggota komunitas dan para pemangku kepentingan yang terhormat. Senang sekali saya dapat kembali untuk berbagi postingan di komunitas Wednesday Walk untuk edisi minggu ini.
Untuk edisi kali ini saya ingin berbagi momen perjalanan saya ke dalam komunitas Wednesday Walk untuk minggu ini. Saya berangkat dari desa Makmur, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah, selama perjalanan dengan udara yang sejuk dan cuaca yang cerah.

Memasuki musim kemarau, cuaca akhir-akhir ini sudah mulai cerah, terik dan panas sejak pagi hari. Saat ini sudah jarang sekali turun hujan, terkadang hujan turun sesekali, itupun adalah hujan gerimis saja.
Dengan cuaca seperti ini saya pikir sangat mendukung untuk kita beraktifitas di waktu pagi hingga sore hari. Meskipun dengan cuaca yang panas, saya harus pergi ke kota untuk membongkar bingkai papan ucapan duka cita yang telah di order oleh kostumer saya.

Sebelum sampai ke kota, saya meluangkan waktu sebentar untuk berkunjung ke kawasan jembatan Paya Nahu, sebuah jembatan yang terletak dalam kawasan desa Pendere Saril, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Jembatan ini merupakan akses jalan yang menghubungkan pemukiman warga yang berada di seberang sungai dan bukit untuk dapat mengakses jalan ke kota.
Ada sebuah pemukiman yang berada di dekat Jembatan Paya Nahu ini, di wilayah ini juga terdapat sejumlah rumah milik warga setempat, warga disini hidup seperti biasa sebagai petani kopi. Kawasan ini terlihat seperti kawasan pendesaan yang khas dengan suasana alamnya yang masih alami, rumah-rumah warga dibangun di antara perkebunan kopi dan persawahan.

Kawasan pemukiman ini tidak jauh dari jalan utama, jalan raya di lintas Yos Sudarso - Jagong Jeget, hanya saja letaknya adalah berada di seberang sungai. Beberapa rumah dibangun di atas bukit, beberapa rumah yang lainnya dibangun di dekat lereng bukit dengan latar perbukitan dan perkebunan kopi.
Jalan menuju ke kawasan ini terbuat dari aspal namun beberapa titik jalan telah rusak dan berlubang, jalannya yang tidak begitu lebar hanya dapat dilalui oleh sebuah kendaraan mobil saja. Selain kebun kopi, di sekitar dekat aliran sungai juga terdapat persawahan yang tidak begitu luas, di sawah tersebut saat ini mereka sedang menanam padi, beberapa sawah terlihat telah tumbuh tanaman padi yang masih berusia muda dengan daunnya berwarna hijau yang sangat khas.

Berada di sini saya benar-benar merasakan suasana pendesaaan yang asri dan menenangkan, tidak banyak terdengar suara riuh, semua terasa seperti menenangkan. Ketika saya berada di sekitar Jembatan, hanya ada suara percikan aliran air sungai yang deras, suaranya terasa menenangkan dan memberikan suasana refleksi alami yang penuh makna untuk meditasi.
Aliran sungai yang berada di dekat jembatan ini merupakan aliran sungai yang berhulu dari danau. Air sungai mengalir dengan deras melewati bebatuan dengan suara percikan dan gemuruh air yang penuh dengan nada-nadanya, itu terasa sangat menenangkan bagi saya.

Di titik jembatan yang dekat dengan aliran sungai ini biasanya merupakan titik utama para pelancong untuk melakukan kegiatan olahraga Arung Jeram dalam kategori ekstrem. Karena aliran yang deras dan memiliki bebatuan yang menantang jalur sungai, di titik sering kali dijadikan sebagai spot pelepasan perahu karet untuk Arung Jeram.
Di sekitar sungai juga tampak beberapa pohon bambu yang tumbuh dengan rimbun dan rindang. Para pelancong yang melakukan aktivitas Arung Jeram Ekstrem dari titik ini akan melewati sungai yang deras dengan tumbuhan pohon bambu di sekitar aliran sungai dan juga bebatuan besar yang berada di dalam sungai.







Sementara itu di beberapa titik lain yang berada lebih ke atas menuju ke hulu sungai, aliran air sungai tampak sangat tenang. Di sungai ini terdapat sejumlah warga yang sedang memancing ikan, karena airnya yang tenang, jadi mereka dapat memancing di aliran sungai ini, sementara beberapa bebek juga terlihat sedang berenang di sungai.



That concludes my post, I hope you enjoy it...
All photos were taken with IPHONE 11>>>
Translation by Google Translate>>>

Location Via https://worldmappin.com/ : [//]:# (!worldmappin 4.61895 lat 96.81978 long d3scr)
Regards,
@ponpase


You can check out this post and your own profile on the map. Be part of the Worldmappin Community and join our Discord Channel to get in touch with other travelers, ask questions or just be updated on our latest features.