
Hello Hive friends, I'm delighted to be back to share this week's Wednesday Walk post with the community. For this week's Wednesday Walk post, I'll be sharing about my trip to a region with a horse farm.
In the Takengon region, there's an annual tradition: traditional horse racing. Almost every region in Takengon has a horse farm, and each region has its own favorite horse that they rely on for traditional horse racing.

When I went to the Pegasing area, I encountered several horses walking along the road. The horses here appear to have been let loose; this area has a large number of horses, similar to a cattle farm.
I believe the horses in this area are raised similarly to the cattle farms I encountered in coastal areas of Aceh. In coastal areas, cattle are easily found in large numbers and are free to forage.

Meanwhile, I often find horses in the Gayo Mountains region in large numbers, roaming freely in the grassy areas. Horses in this region can easily be found on the roads, some loose, some herded, and tied up.
The Pegasing region also has a venue commonly used for horse racing events. The horse field is located in the Blang Bebangka area, a racetrack that is categorized as a racetrack equivalent to national-level specifications.

Horses that roam freely on the road are generally tame, meaning they can easily return home and find their way to their breeding grounds. These horses will usually follow the same path, making it easy to find their way to their breeding grounds.
These horses are usually released in the morning and return to their breeding grounds in the afternoon. As evening approaches, horse owners will usually look for them in the areas where their horses usually graze and forage.

While passing along the road, I also encountered several people riding their horses home. Some of these riders had just returned from the racetrack for horse racing practice.
There were also several horses tied and let loose in the pasture to forage. These horses appeared to be grazing in a large grassy area, tied to wooden stakes driven into the ground.

They will stay in the grass until the afternoon, living in extreme heat and surviving until they return to the breeding grounds. A horse that is well-maintained by its owner can be seen in its good, clean, and beautiful appearance.



Meanwhile, horses that live freely released into the wild appear thin, shabby, and have matted coats. The trip to Pegasing gave me the experience of seeing horses firsthand and learning about animal survival in the cool Gayo Mountains.
This concludes my post for the Wednesday Walk edition. I hope this post is entertaining and helpful.
Regards,
@ponpase

Halo sahabat Hive, senang sekali saya dapat kembali untuk berbagi postingan di komunitas Wednesday Walk untuk edisi minggu ini. Untuk postingan Wednesday Walk edisi minggu ini saya akan berbagi postingan tentang perjalanan saya ke salah satu wilayah yang memiliki peternakan kuda.
Di wilayah Takengon terdapat sebuah tradisi yang digelar setiap tahun, yaitu pacuan kuda tradisional. Sehingga hampir setiap wilayah di kota Takengon memiliki peternakan kuda dan mereka memiliki kuda favorit yang di andalkan untuk mengikuti lomba pacuan kuda tradisional.

Ketika saya pergi ke wilayah Pegasing, saya menemukan beberapa kuda di jalan yang sedang berjalan. Kuda-kuda di sini tampaknya dilepas liarkan begitu saja, wilayah ini memiliki jumlah kuda yang banyak, seperti peternakan sapi.
Menurut saya, kuda di wilayah ini diperlihara seperti peternakan sapi yang saya temukan di wilayah pesisir Aceh. Jika jumlah sapi di wilayah pesisir dapat kita temukan dengan mudah dalam jumlah yang banyak dan hidup dibebaskan untuk mencari makanan.

Sementara itu, kuda-kuda yang saya temukan di wilayah pegunungan gayo ini juga sering saya temukan dalam jumlah yang banyak dan hidup bebas di area rumput. Kuda-kuda di wilayah ini dapat ditemukan dengan mudah di jalan, sebagian mereka di lepas, sebagian mereka di gembala dan di ikat.
Wilayah pegasing juga memiliki salah satu tempat yang biasa digunakan untuk acara lomba pacuan kuda. Lapangan kuda terletak di wilayah Blang Bebangka, sebuah lapangan pacuan kuda yang termasuk dalam kategori lapangan pacuan kuda yang setara dengan spesifikasi tingkat nasional.

Kuda-kuda yang berjalan bebas di jalan termasuk kuda yang jinak, dimana mereka dapat kembali pulang dengan mudah dan menemukan jalan menuju tempat penangkarannya. Biasanya kuda-kuda ini akan selalu berjalan melalui jalan yang sama, sehingga mereka mudah menandakan jalan menuju ke tempat penangkarannya.
Kuda-kuda ini biasanya dilepaskan pada pagi hari dan mereka akan kembali ke tempat penangkaran pada waktu sore hari. Jika sudah menjelang malam, biasanya pemilik kuda akan mencari mereka ke tempat yang biasanya kuda-kuda mereka berternak dan mencari rumput.

Saat melewati jalan saya juga menemukan beberapa orang yang sedang menunggang kuda mereka untuk di bawa pulang. Beberapa penunggang kuda ini baru saja selesai pulang dari lapangan pacuan kuda untuk berlatihan pacuan kuda.
Ada juga sejumlah kuda yang terlihat di ikat dan dilepas di padang rumput untuk mencari makanan. Kuda-kuda ini terlihat di gembalakan di area yang memiliki rumput yang luas, kuda yang digembala ini di ikat di pancang kayu yang ditancapkan ke tanah.

Mereka akan tinggal di area rumput hingga sore hari, hidup dengan sangat ekstrem di tengah terik matahari dan mereka dapat bertahan dengan kuat hingga mereka pulang ke tempat penangkaran. Kondisi kuda yang terawat dengan baik oleh pemiliknya dapat kita lihat dengan bentuk kudanya yang bagus, bersih dan cantik.



Sedangkan kuda yang hidup dengan dilepaskan liar begitu saja, kuda-kuda ini tampak kurus, kusan dan memiliki bulu yang kusut. Perjalanan ke pegasing memberikan saya pengalaman melihat kuda secara langsung dan tentang pelajaran hewan bertahan hidup di wilayah pegunungan gayo yang sejuk.
Demikian postingan saya dalam edisi Wednesday Walk, semoga postingan ini dapat menjadi hiburan dan bermanfaat.
Location : [//]:# (!worldmappin 4.60171 lat 96.80648 long d3scr)
Salam,
@ponpase
You can check out this post and your own profile on the map. Be part of the Worldmappin Community and join our Discord Channel to get in touch with other travelers, ask questions or just be updated on our latest features.
I can only imagine how exhilarating this walk was for you. I would love to own a horse someday, theyโre one of the loveliest animals to exist on Earth.
By the way, are the horses there used as means of transportation?
Hi, thank you for your response.
Horses in our area are rarely used for transportation.
They are only used as racehorses / racing horses.
โ
โ
โ
Thank you very much
It's great to see an image where horses are free and enjoying fresh grass! In the place where I live, they are mostly in stables, where there is no grass at all, just mud and dirt... ๐ Owners to take care of them, but seeing them out in the wild is a completely different thing...
Thanks for sharing these beautiful photos!
I have picked this post on behalf of the @OurPick project! Check out our Reading Suggestions Posts!
Please consider voting for our Liotes HIVE Witness. Thank you!
What I loved about Indonesia:
Thanks for sharing this lovely part of the world. <3