
Hello Hive friends, may God always bless us all. I'm so happy to be back in our beloved GEMS community to share my travel posts.
In my free time, when I'm feeling tired, I usually go for a walk and explore the lake. Since it's not too far from my house, I can go to the lake anytime I want.

As before, I went to a spot near the lake, not too far from downtown Takengon. It seems this spot is still within the Kebayakan district, an area close to the city center.
There are indeed many spots to visit around Lake Laut Tawar, but I prefer to stay closer. I think almost all areas around the lake have similar attractions; all the spots are equally beautiful and captivating.

I went to the dock area, a spot often used by local residents for fishing. From the city, I headed along Jalan Putri Pukes, passing through Mendale Village, a road that leads to the Bintang sub-district, located at the edge of the lake.

I entered the alleyway, heading toward the lake, passing several guesthouses. It seems this area has been transformed into a guesthouse area, as it is very close to the freshwater lake. Furthermore, perhaps because of the nearby pier, it has become an attraction, offering one of the best vantage points for viewing the lake's beauty.

As I drove along this road, I passed several lodgings that were easily accessible from the entrance to the lake. Near the pier, I saw three lodgings: a homestay, a hotel, and a guesthouse.

Even though the accommodation is close to the lake, as far as I know, almost all of the accommodations here are very affordable. This is especially true since they aren't hotels, and they still offer excellent service and amenities to their guests.
When approaching the lake, this is the starting point on the north-west side of the lake, which is the best vantage point for viewing the eastern end of the lake. From here, almost the entire lake is visible; only a few bay areas may be obscured by mountains, but almost everything is visible.

But what was interesting at this point was seeing firsthand a number of fish cages in the lake. Several local residents had built fish cages in the lake to raise fish and shrimp, and some even cultivated lobsters in the cages.
These cages were built like floating houses on the water, floating on large drums that served as the main buoyancy for the structures. The cages weren't moving; perhaps they had placed or used something as an anchor to hold them in place.

They also built a small house made of wood and a zinc roof, all of which look nice and suitable for a stopover. To reach this floating house, local fishermen usually use a small boat, such as a rowing canoe, or sometimes a motorized canoe.
These traditional fish cages are the fishermen's primary source of livelihood and economic support. While the presence of these cages may seem shabby and spoil the lake's beauty, we must accept this; this is part of its unique character, something that has its own unique charm from different angles.

The most important thing is that we hope they don't damage the beauty and sustainability of the lake and its habitat. Being around the lake makes me feel calmer and provides the best place for me to reflect and enjoy nature.

Halo sahabat Hive, semoga tuhan selalu memberkati kita semuanya. Senang sekali saya kembali di komunitas GEMS yang kita cintai untuk berbagi postingan aktivitas travel saya.
Di waktu luang ketika saya sedang merasa penat, saya biasanya akan pergi untuk jalan-jalan dan berkeliling di sekitar danau. Karena jarak dari rumah saya yang tidak terlalu jauh, jadi saya dapat pergi ke danau kapan saja di waktu yang saya inginkan.

Seperti pada waktu lalu, saya pergi ke salah satu tempat di sekitar pinggir danau yang jaraknya tidak terlalu jauh pusat kota Takengon. Sepertinya tempat ini masih dalam wilayah kecamatan Kebayakan, wilayah yang dekat dengan pusat kota.
Memang ada banyak titik spot yang dapat kita kunjungi di sekitar danau laut tawar, tetapi saya lebih memiliki di sekitar wilayah yang lebih dekat saja. Karena menurut saya hampir semua wilayah di sekitar danau juga memiliki tempat yang sama, semua titik spot sama saja terlihat indah dan mempesona mata.

Saya pergi ke wilayah dermaga, sebuah tempat yang sering dijadikan sebagai spot untuk memancing dan mencari ikan oleh warga sekitar. Dari arah kota saya menuju melewati ke arah jalan Putri Pukes, lewat desa mendale, sebuah jalan yang tembus ke wilayah ke camatan Bintang yang terletak di ujung danau.

Saya memasuki jalan lorong, menuju ke arah danau dengan melewati sejumlah tempat penginapan, tampaknya tempat ini telah berubah menjadi wilayah penginapan, karena tempat ini memiliki jarak yang sangat dekat dengan danau laut tawar. Selain itu, mungkin karena ada dermaga di sekitar tempat ini jadi ini menjadi salah satu daya tarik untuk menawarkan salah satu spot terbaik untuk melihat keindahan danau.

Saat saya melewati jalan ini saya melewati beberapa tempat penginapan yang sudah bisa kita jumpai dengan mudah mulai dari jalan masuk ke araha danau. Adapun di wilayah yang dekat ke arah dermaga, saya melihat terdapat 3 tempat penginapan yang berstatus sebagai home stay, hotel dan wisma.

Meskipun penginapannya dekat dengan danau, sepengetahuan saya hampir semua tempat penginapan disini ditawarkan dengan biaya yang sangat terjangkau. Terlebih lagi karena mereka tidak berstatus sebagai tingkatan hotel, dan mereka tetap saja menawarkan pelayanan dan fasilitas terbaik untuk para tamunya.
Ketika pergi ke dekat danau, ini adalah ujung awal di bagian barat utara danau, dimana menjadi titik spot terbaik untuk melihat ke ujung timur danau. Di sini hampir semua sisi danau dapat terlihat, hanya beberapa saja area teluk yang mungkin tertupi oleh gunung, tetapi hampir semuanya dapat terlihat.

Namun yang menarik di titik ini adalah ketika saya dapat melihat secara langsung sejumlah keramba yang berada di danau. Beberapa warga lokal membuat keramba di danau sebagai tempat untuk memelihara ikan dan udang, bahkan ada juga yang membudidayakan jenis lonster di dalam keramba.
Keramba-keramba ini di buat seperti rumah apung yang berada di atas air, mereka mengapung dengan menggunakan drum-drum besar yang menjadi pelampung utama air bangunan keramba mereka dapat mengapung. Posisi keramba mereka tidak berjalan, mungkin mereka telah menaruh atau menggunakan sesuatu sebagai jangkar untuk menahan posisi mereka.

Mereka juga membangun sebuah rumah kecil yang terbuat sari kayu dan beratap seng, semua terlihat bagus dan layak untuk ditempati sebagai tempat persinggahan. Untuk menuju ke rumah apung ini, biasanya para nelayan setempat akan menggunakan perahu kecil, seperti sebuah sampan dayung, terkadang ada juga yang menggunakan perahu sampan bermesin.
Keramba-keramba tradisional ini menjadi harapan para nelayan sebagai mata pencaharian utama mereka untuk bertahan hidup dan dukungan perekonomiannya. Terkadan keberadaan keramba-keramba sekilas terlihat kumuh dan merusak keindahan danau, namun kita harus berdamai dengan semua itu, inilah yang menjadi bagian dari ciri khasnya, sesuatu yang memiliki daya tarik tersendiri dari sudut yang berbeda.

Hal yang terpenting adalah kita berharap bahwa mereka tidak merusak keindahan, kelestarian danau dan habitat yang ada di danau ini. Berada di sekitar danau membuat saya merasa lebih tenang dan menjadi spot terbaik bagi saya unuk merefleksi dengan menikmati alam.



That concludes my post, I hope you enjoy it...
All photos were taken with IPHONE 11>>>
Translation by Google Translate>>>
Regards,
@ponpase


What incredible photos, I loved number 1 and 7, I loved them!
Thank you very much for the feedback...
You are so lucky to have such a wonderful lake so close, relaxing and